Seperti Seharusnya

seperti seharusnya..

ya masih tentang seperti seharusnya..

..tidak sedikit kala itu kesan mendalam yang bakal terngiang hingga kelak usai suadah segala penjelajahanku,
 moment dimana pilihanku tertuju atas keinginan yang lain bahkan menghiraukan harapan yang berharap penuh,
bahkan ketika mereka memilih untuk pindah kabupaten, aku masih dengan egoku yang tak terbendung berharap segalanya berjalan sesuai ekspektasiku, dan jujur aku bahkan tak tau inspirasi apa yang menghantui bahkan menjadikanku sok puitis dan kritis, mungkin saja masa puberku gejalanya yang muncul hal tersebut, heheheheheh
banyak hal yang semakin mengejutkanku ketika pertama kali menginjakkan kaki ditanah Tapanuli, kala itu untuk pertama kalinya kudengar seorang siswa berbicara dengan bahasa Batak, lebih khasnya nya logat Tapanuli, wow... susah menggambarkan betapa terkejutnya saat itu. sebelumnya, dalam benakku berbicara bahasa Batak itu kepada orang yang lebih tua seperti mengurangi rasa hormat kepada yang lebih dituakan. seketika mindset ku berubah, seiring berjalannya waktu aku juga semakin fasih dengan bahasa khas daerah Tapanuli, itu juga membuatku bingung sendiri, seakan-akan sedang menyeduhkan mie yang begitu instant, hihihiih.. btw, itu kemungkinan besar karena gen yang terbentuk dari Batak kali ya?

 
Ooo iya, aku juga tidak  lupa mengenalkan beberapa teman yang berasal dari utara dan selatan tapanuli dan dari pulau seberang juga ada lho😊, dan taukah kalian, mereka juga membawa khasnya masing-masing. yang satu dengan khas bahasa yang berirama mungkin, do re mi(di sini agak diberi sedikit jeda sambil mulut mangap) heheheh maafkan daku teman jika sekiranya kau melihat ini. dan yang satu lagi dari selatan tapanuli, mereka juga punya khas masing-masing (yang terukir dan tidak akan lekang oleh waktu itu, kata "Bujing-bujing", Bukan bujing ya guysπŸ˜†, kata mereka sih, Bujing-bujing itu adalah seorang Anak gadis yang belum menikah.udah ah pembahasan kita tentang perbedaan, heheheh.



banyak hal terjadi dalam perjalanan selanjutnya, mulai dari belajar lebih mandiri katanya. hehehehehehehe, kadang kala ngakak sembari malu juga kala itu ketika menganggap diri uda mandiri tetapi tiap bulan masih dapat duit dari orang tua sendiri. bodoh ah, yang penting orang lain liatnya hidup seperti diterlantarkan sudahπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜†πŸ˜†, maafkan aku Pak Boss, jadi berdosa deh kalau bahas yang begitu. hehehheh. btw, saat itu memang aku menggangap diriku giat belajar sih dan pastinya harus pintar carmuk, katanyaπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜ƒ. kala itu aku bisa dikatakan cukup memahami jadi kuli, upsss anak bangunan maksudnyaπŸ˜‚. sesekali jadi tukang pegang bak rambu ukur ketika jam kelas, dan harus ijin ke guru mata pelajaran umum (Maklum, Kajurnya disegani dulu disekolahπŸ˜ŠπŸ˜‰, jadi tinggal jual namanya bebas deh gak ikut mapel umumnya), ditahun itu duit tiga ratus rebu untuk sekelas anak smk mah uda gede lho, selekas pulang biasanya dikasih duit sebesar ituπŸ˜‡πŸ˜‡. 

ini bocil mah banyak gaya bat pada masa itu

ini ketika Surveyor nya masih membahas FeeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Ini hanya mengisi kembali blog terlantar ini guys, panjang juga kalau diceritain semua ya. Oiyaaaa, asal kalian tau, aku sebenarnya diawal lebih suka gambar Tribal-tribal gitu, namun seiring rasa iri melihat karya orang lain, mulai deh memberanikan diri coba-coba tipu diri sendiri. mulai dari coret-coret blackboard sampai dinding ruangan jadi tempat bahan percobaanπŸ˜‚πŸ˜‚, untung saja hasilnya cukup memuaskan kata orang awam.



Oiya, aku sebenarnya anak Teknik Gambar ya Guys😁

modelnya si makmur

hmmmmm

Kakashi-nya aja yang masih tersimpan, Sasuke-nya gak kearsipπŸ˜“πŸ˜“

 

sampai disini dulu ya guys, sama seperti menulis manual, diawal masih rapi dan berurutan dan diakhir terlihatah sifat aslimu, heheheheh. mengarang juga hampir sejalan ya guysπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜‹. ini ada bonus dokumentasi para bocil saat itu.







Komentar

Postingan populer dari blog ini